Tulisan Bersamamu

by - Juni 13, 2017

BERSAMA HEMBUSAN ANGIN
Bersama hembusan angin dan udara alam semesta
Dan daun-daun berguguran
Bersama sehalus dan sebening awan dilangit
Bersama bayang-bayang semu
Merasakan indah dan sunyi yang kurasakan

Kumemandangi dalam keteduhan..
Memandang indahnya seduh sedih sedan
Bersama tetesan hujan yang membasahi alam ini
Dalam doaku berkata akankah bayang-bayang semu menjadi nyata?

Apakah hanya ilusi sesaat?
Bersama hembusan angin dan daun-daun berguguran..
Menjadi saksi bisu anatara kau dan aku.

SEPRCIK HARAPAN
Serpihan malam
getaran-getaran halus
menggenggam lurus
dalam detik ini
ingin ku selimuti
bayang-bayang sepi

Aku kehilangan bayangmu
kusapu bekas bayangmu
aku masih seperti kemarin
menanti dalam hening
namun kau tak bergeming
menuju ke arahku

Entahlah...
mungkin aku harus berlalu
mengalah pada waktu
karena aku didirimu
hanya sebagai sosok semu
aku cukup tertunduk disini
berteman segelas kopi kemarin,

BIARKANLAH KAU YANG MENUNGGUKU

Setiap bait nada rinduku
Kujahit dalam sebuah rajutan cintaku padamu
Untuk tiap-tiap kata cinta,
Yang selalu datang saat aku memikirkanmu,
Akan ku pantulkan dengan cermin kesetiaanku,
Agar aku terhindar dari rindu yang menghampiriku,
Kan ku biarkan kau yang menungguku,
Kan ku coba bagaimana kesetiaanmu,
Agar kau bisa merasakaan,
Bagaimana rindu itu sebenarnya,
Agar kau dapat mengerti apa itu kesungguhan,
Bukan sebuah kepalsuan bukan candaan,
Yang kau tuduhkan kepadaku itu,
Inilah rasanya rindu,
Memberatkan diri membuat cemburu,
Inilah rasanya rindu,
Biarkanlah kau yang menungguku

HATI YANG TAK TERGOYAHKAN
Teruntuk hati yang pernah mati
Mungkinkan akan kembali
Mesti istigfar yang ku lapalkan telah meribu
Kembali mengalir dalam darah
Kemanakah wahai hatiku ?
Saat jemari ini sudah lelah memetik senar kehidupan
Dimanakah relief – relief nada cinta yang kuciptakan
Lebur dan berserakan
Sekarang kau telah bersama dia
Dia yang kau cintai
Dia yang engkau sayangi
Dia yang selalu ada dalam ingatan mu
Dan dia yng segalanya bagi langkah kakimu
Aku tak meminta yang lain darimu
Aku tak meminta agar kau tak menyiakan ku
Aku bagaikan purnama gerhana
Yang hilang tanpa arah tujuan
Aku tak perlu harapan mu
Yang aku perlukan adalah sebuah kepastian lagi
Kepastian yang bukan sekedar rasa yang tertinggal

MENYENTUH LANGIT
Saat senja telah berganti
Kicau burung menemani
Tak kecuali awan membasahi
Alunan coklat yang terhiasi

Menatap angin yang semu
Apa kau tak mau tahu
Di rasi juta bintang
Gemerlap indah bertabur riang

Ku lukis indah sayap mega
Kan terukir seribu ceria
Tuk mampu aku kesana
Temani malaikat yang bahagia

Satu jemari telah menyapa
Menari indah dan jelita
Pesona ia bersimpul irama
Di taman angkasa Sang Kuasa

Hanya sanggup terpukau
Tanpa harus tinggal disana
Inikah pintaku....
Ku sentuh itu dengan lembut
Ku rangkai cita-citaku
Biarkan aku menyentuhnya
Biarkan aku menyentuh langitku....

HARAPAN SEORANG INSAN


Kehidupan ini memaksaku untuk kuat
Dari berbagai masalah yang tak berujung
Menjelma menjadi misteri yang indah
Semua seperti sandiwara..

Tuhan...
Aku takut kehilangan orang-orang yang kusayangi
Aku takut kehilangan perhatian dari mereka
Aku takut kegelapan & kesunyian

Jika hidupku masih panjang
Aku ingin melakukan sesuatu untuk mereka
Meski kecil & nyaris tak berarti
Namun mampu dikenang hingga akhir hayat
Bahkan hingga aku pindah pada dimensi yang lain

WAKTU YANG BERLALU
Andaikan saja waktu.....
Dapat ku putar kembali.....
Sejenak ku akan terdiam disana....
Dan ku renungi apa yang telah terjadi......

Mungkin....
Inilah salahku....
Salah dimana aku terdiam dan membisu....
Saat kau inginkan hadirku...

Kini waktu pun berlalu...
Detik yang terhempaskan...
Menit yang ku habiskan...
Dan hari yang ku biarkan berlari....
Meninggalkan aku seorang diri....

Cintaku seperti Cerutu
Kau apit hidupku
Lalu kau sulut dengan api
Dihabisinya riwayatku
Lalu kau hempas ke belakang

Ah, sudahlah....
Kedua bola hitam yang kau punya
Takkan membesar bila,
Cerutu yang tak lagi utuh

Ah, bosan aku...
Tiap isyarat hanya 'tuk rindu
Lepas penat, segala sendu
Surga fana sesaat untukmu

Ah, marah aku...
Kau hanya lihat label,
Padahal hanya kau nikmati
Sebentar saja

Aku kecewa,
Ku tak ingin menjadi
Penghias bibirmu
Pembangkit gairahmu

Aku takut...
Asapku membuatmu sakit
Karena tak ada penawar
Selain kematian

Padahal....
Ku tak segan membunuhmu
Walau, kau memilihku
Lalu kau menginjakku

You May Also Like

0 komentar